Sumaya Atlit Teqball Asal Rupat ukir Sejarah, Sumbang Medali Perak untuk Indonesia, di Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Berita300 Dilihat
banner 468x60

BENGKALIS — Atlet teqball asal Desa Pangkalan Nyirih, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Sumaya Putri, berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan mempersembahkan medali perak bagi Indonesia pada ajang Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.

Sumaya turun pada nomor Women’s Singles (tunggal putri) teqball dan berhasil melaju hingga partai final yang berlangsung di Nagoya City Higashi Sports Center, Jepang, Minggu (20/9/2026).

banner 336x280

Perjalanan Sumaya menuju podium tidaklah mudah. Atlet yang sebelumnya menekuni cabang olahraga sepak takraw tersebut baru sekitar dua tahun beralih ke teqball. Berkat latihan, disiplin, serta dukungan pelatih dan keluarga, Sumaya mampu menunjukkan kemampuan dan bersaing di tingkat Asia.

Lolos ke Final Setelah Taklukkan Wakil India

Sebelum tampil di partai final, Sumaya berhasil melewati babak semifinal dengan mengalahkan wakil India, Quimcy Joaquim Dsouza, dalam pertandingan tiga set dengan skor 7-12, 12-9, dan 12-7.

Kemenangan tersebut memastikan langkah Sumaya ke partai puncak sekaligus mengamankan medali bagi Indonesia.

Di final, Sumaya berhadapan dengan wakil Myanmar, Khin Hnin Wai. Pertandingan berlangsung ketat hingga harus ditentukan melalui tiga set.

Sumaya mengawali pertandingan dengan merebut set pertama dengan skor 12-10. Namun, Khin Hnin Wai mampu bangkit pada set kedua dan menang 8-12.

Pertandingan kemudian berlanjut ke set penentuan. Sumaya memberikan perlawanan hingga akhirnya harus mengakui keunggulan atlet Myanmar tersebut dengan skor 9-12.

Hasil tersebut membuat Sumaya meraih medali perak nomor Women’s Singles Teqball Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Torehan Bersejarah bagi Teqball Indonesia

Medali yang diraih Sumaya menjadi catatan penting bagi perjalanan teqball Indonesia di Asian Games. Cabang olahraga teqball untuk pertama kalinya dipertandingkan sebagai cabang perebutan medali pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Dengan pencapaian tersebut, Sumaya tercatat sebagai salah satu atlet Indonesia yang berhasil mempersembahkan medali dari cabang olahraga teqball pada debutnya di Asian Games.

Prestasi tersebut sekaligus membawa nama Pangkalan Nyirih, Rupat, Kabupaten Bengkalis, dan Provinsi Riau ke panggung olahraga Asia.

Dukungan Keluarga dan Masyarakat Pangkalan Nyirih

Perjuangan Sumaya di Jepang turut mendapat dukungan dari keluarga dan masyarakat di kampung halamannya.

Pada Minggu (20/9/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, keluarga besar Sumaya menggelar nonton bareng (nobar) pertandingan final di kediaman orang tuanya, Syafrudin, di Desa Pangkalan Nyirih.

Suasana nobar berlangsung penuh harap dan ketegangan. Keluarga, masyarakat, serta Sekretaris Desa Pangkalan Nyirih turut menyaksikan pertandingan melalui layar televisi.

Ketegangan semakin terasa ketika pertandingan memasuki set ketiga. Bahkan, kegiatan nobar sempat mengalami gangguan karena jaringan Wi-Fi bermasalah. Meski demikian, dukungan dan doa untuk Sumaya terus mengalir hingga pertandingan berakhir.

Sumaya: Sudah Memberikan yang Terbaik

Sehari setelah pertandingan final, Senin (21/9/2026) pukul 08.52 WIB, Sumaya mengikuti wawancara secara virtual bersama Metro TV.

Dalam wawancara tersebut, Sumaya menceritakan perjuangannya di partai final. Ia mengaku telah berusaha memberikan permainan terbaik, meskipun hasil akhir belum berpihak kepadanya.

Sumaya juga menunjukkan medali perak yang diraihnya serta menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut.

Ia turut mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah memberikan dukungan dan doa selama dirinya bertanding.

Bagi Sumaya, tampil di final Asian Games dan mempersembahkan medali untuk Indonesia merupakan kebanggaan tersendiri.

Ia juga memberikan semangat kepada para atlet Indonesia yang masih bertanding di cabang olahraga lainnya agar terus berjuang dan memberikan prestasi terbaik untuk Merah Putih.

“Semoga adik-adik dan atlet-atlet Indonesia lainnya bisa sebanyak-banyaknya menyumbangkan medali untuk Indonesia,” ujar Sumaya dalam wawancara tersebut.

Berawal dari Sepak Takraw

Sebelum menekuni teqball, Sumaya merupakan atlet sepak takraw. Ia kemudian beralih ke teqball sekitar dua tahun sebelum tampil di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Menurut Sumaya, terdapat sejumlah perbedaan antara sepak takraw dan teqball, terutama dalam teknik menyentuh bola, aturan permainan, ukuran lapangan, serta bentuk meja yang digunakan.

Dalam teqball, pemain tidak diperbolehkan menggunakan anggota tubuh yang sama secara berulang dalam satu rangkaian sentuhan. Perbedaan tersebut menjadi tantangan sekaligus daya tarik bagi Sumaya untuk terus mengembangkan kemampuannya.

“Teqball lebih menantang dan membuat saya tertarik untuk terus belajar,” demikian inti penjelasan Sumaya dalam wawancara tersebut.

Syafrudin Bangga atas Perjuangan Putrinya

Sementara itu, Syafrudin, yang akrab disapa Majid, selaku orang tua sekaligus pelatih Sumaya, mengaku bangga atas pencapaian putrinya.

Menurutnya, meskipun Sumaya belum berhasil meraih medali emas, keberhasilan mencapai final dan membawa pulang medali perak Asian Games merupakan pencapaian yang sangat membanggakan.

“Kami tentu bangga. Walaupun belum mendapatkan emas, Sumaya sudah memberikan yang terbaik dan berhasil menyumbangkan medali perak untuk Indonesia. Bisa mencapai final Asian Games saja sudah menjadi kebanggaan yang luar biasa bagi keluarga dan pelatih,” ujar Syafrudin.

Medali perak yang dibawa pulang Sumaya kini menjadi bagian dari perjalanan baru teqball Indonesia di panggung Asian Games. Dari Desa Pangkalan Nyirih, Kecamatan Rupat, perjuangan seorang atlet muda berhasil membawa nama daerah dan Indonesia tampil di panggung olahraga Asia.( Marhisam)

banner 336x280