SPBU Bailo terbakar, warga pertanyakan pasokan Pertalite

Berita87 Dilihat
banner 468x60

TOJO UNA-UNA, SULTENG – Pemberitaan mengenai kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) menuai pertanyaan dari sejumlah masyarakat dan awak media. Informasi yang disiarkan RRI Ampana pada Rabu, 14 Oktober 2026, dan dibacakan oleh Rahmawati Tane selaku penyiar, dinilai sebagian warga belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ketersediaan BBM di lapangan.

Pemberitaan tersebut mengaitkan kelangkaan Pertalite selama dua hari terakhir dengan kebakaran yang terjadi di SPBU Bailo. Namun, masyarakat mempertanyakan sejauh mana gangguan pada satu SPBU berdampak terhadap pasokan BBM di seluruh Kabupaten Tojo Una-Una.

banner 336x280

Enam SPBU di Touna menjadi perhatian

Menurut informasi yang disampaikan masyarakat, Kabupaten Tojo Una-Una memiliki enam SPBU. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai operasional lima SPBU lainnya dan kemampuan masing-masing lokasi dalam memenuhi kebutuhan Pertalite masyarakat.

Warga mempertanyakan apakah gangguan pada satu SPBU dapat berdampak luas terhadap pasokan BBM di seluruh kabupaten. Mereka berharap informasi mengenai kelangkaan Pertalite disertai data yang jelas mengenai stok, distribusi, dan kondisi operasional masing-masing SPBU.

Apabila SPBU lainnya masih beroperasi, masyarakat ingin mengetahui apakah terdapat kendala distribusi atau faktor lain yang menyebabkan Pertalite sulit diperoleh dalam dua hari terakhir.

Karena itu, diperlukan penjelasan dari pengelola SPBU dan pihak penyalur resmi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.

Harga Pertalite eceran mencapai Rp15 ribu per liter

Di tengah keluhan mengenai ketersediaan BBM, masyarakat juga menyoroti harga Pertalite di tingkat pengecer yang disebut mencapai Rp15.000 per liter, bahkan diduga lebih tinggi di sejumlah tempat.

Kenaikan harga tersebut menjadi beban bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan bermotor untuk bekerja, berdagang, melaut, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Situasi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai penyebab kenaikan harga Pertalite eceran. Apakah kondisi tersebut sepenuhnya berkaitan dengan kebakaran SPBU Bailo, atau terdapat faktor lain yang memengaruhi pasokan dan harga di tingkat pengecer?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan pengecekan langsung terhadap harga jual, ketersediaan stok, dan kondisi distribusi BBM di berbagai wilayah Kabupaten Tojo Una-Una.

Akurasi pemberitaan RRI Ampana dipertanyakan

Sejumlah warga dan awak media mempertanyakan pemberitaan RRI Ampana yang menghubungkan kebakaran SPBU Bailo dengan kelangkaan Pertalite. Mereka berharap informasi mengenai persoalan BBM disampaikan secara akurat, proporsional, dan berdasarkan hasil verifikasi di lapangan.

Meski demikian, penilaian bahwa pemberitaan tersebut tidak sesuai fakta perlu diuji melalui perbandingan antara isi siaran, kondisi operasional SPBU, serta data distribusi BBM yang tersedia.

Sebagai lembaga penyiaran publik, RRI diharapkan memberikan informasi yang berimbang dengan menghadirkan keterangan dari pihak-pihak terkait, termasuk pengelola SPBU, penyalur resmi BBM, pemerintah daerah, dan masyarakat yang terdampak.

Klarifikasi diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai penyebab kelangkaan dan kenaikan harga Pertalite di tingkat pengecer.

Pemerintah dan pihak terkait diminta memberikan penjelasan

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una bersama instansi terkait segera melakukan pemantauan terhadap ketersediaan Pertalite dan harga jual di tingkat pengecer.

Pihak terkait juga perlu menjelaskan kondisi pasokan di enam SPBU, dampak kebakaran SPBU Bailo terhadap distribusi BBM, serta langkah yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Jika ditemukan dugaan pelanggaran dalam distribusi atau penjualan BBM, penanganannya perlu dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.

Pewarta: Ahmad Tuliabu

banner 336x280